Senin, 29 September 2014



ANALISA KARAKTERISTIK AERODINAMIKA UNTUK KEBUTUHAN GAYA DORONG TAKE OFF DAN CRUISE PADA HIGH SPEED FLYING TEST BED
(HSFTB) LAPAN

Lintang Madi Sudiro (2106100130)
Jurusan Teknik Mesin FTI ITS,Surabaya 60111,email:lintangm49@gmail.com

Makalah ini membahas mengenai High Speed Flying Test Bed (HSFTB) milik LAPAN yang gagal melakukan take off ketika uji pertama. HSFTB dibuat sebagai wahana penelitian guna mendukung pembuatan Roket Peluncur Satelit. Pada saat take off, HSFTB menggunakan roket hingga pada cruise. Pada saat cruise menjelajah menggunakan turbo jet. LAPAN berencana menggunakan roket dan turbo jet yang mempunyai gaya dorong sebesar 230 N. Dengan menggunakan bantuan program MISDAT,didapatkan nilai karakteristik  aerodinamika yaitu koefisien gaya angkat,
koefisien gaya hambat, dan koefisien momen turunan terhadap sudut serang.

 Dan kemudian dianalisa dengan memvariasikan sudut serang dan kecepatan dalam Mach number. Dari hasil perhitungan dan simulasi terlihat bahwa kebutuhan gaya dorong pada take off (climb) bisa dipenuhi oleh roket yang digunakan LAPAN jika HSFTB terbang dengan kecepatan 0.05 Mach dengan sudut serang 2 ̊.Sedangkan
untuk kecepatan 0.01 Mach saat take off, secara perhitungan kebutuhan gaya dorong telah terpenuhi tetapi tidak bisa terbang karena gaya dorong tidak mampu melewati kecepatan stall dari HSFTB.

 Pada saat cruise, turbo jet mampu menerbangkan wahana dengan variasi kecepatan dan sudut serang lebih banyak dari ketika take off(climb.).Gaya dorong yang dibutuhkan wahana agar bisa melewati kecepatan stall cukup kecil yaitu 5.95 N. Hal ini dikarenakan ketika HSFTB terbang cruise, bukan hanya gaya dorong yang berperan untuk  menjaga wahana tetap terbang, tetapi juga gaya angkat dari sayap juga membantu.



  
Sistem Pengaturan Injeksi Bahan Bakar Mesin Mitsubishi 4G63 menggunakan Metode Fuzzy Adaptif

Agoeng Ramadhan, Joko Susila, Imam Arifin  Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya 60111,
email : agoengramadhan@yahoo.com,  jokosus@ee.its.ac.id, arifin-i@ee.its.ac.id


Injeksi bahan bakar adalah sebuah teknologi yang digunakan dalam mesin pembakaran dalam untuk menyemprotkan campuran bahan bakar dan udara ke dalam ruang pembakaran. Sistem injeksi bahan bakar dapat berupa mekanikal,elektronik,atau gabungan dari keduanya. Seiring dengan bergulirnya
waktu, sistem injeksi mekanik mulai ditinggalkan dan penggunaan sistem injeksi elektronik semakin marak digunakan.

Sistem injeksi elektronik modern menggunakan banyak sensor untuk memonitor kondisi mesin dan sebuah unit kontrol elektronik (Electronic Control Unit) untuk menghitung jumlah bahan bakar yang diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengendalikan kecepatan putar mesin Mitsubishi 4G63 pada kondisi stasioner pada nilai referensi yang diinginkan.

Berdasarkan hasil simulasi , tampak bahwa respon kecepatan menggunakan kontroler fuzzy mampu untuk mengurangi kesalahan keadaan tunak dengan rata
-rata RMSE sebesar 6.61. Ketika kontroler fuzzy diadaptasi tampak nilai RMSE berkurang dengan rata-rata 6.413. Hasil implementasi kontroler fuzzy
untuk bukaan idle valve sebesar 0 % dalam bentuk look up table pada
mikrok ontroler ATMega 8535 menunjukkan masih terdapat kesalahan dengan
kriteria RMSE sebesar 554.28



Perancangan Kampas Rem Beralur dalam Usaha Meningkatkan
Kinerja serta Umur dari Kampas Rem

L u b i
Jurusan Teknik Mesin FTI-ITS Surabaya

Kendaraan adalah merupakan salah satu media atau sarana transportasi bagi manusia dan barang. Keamanan merupakan faktor terpenting bagi keselamatan penumpang, dimana pengereman adalah salah satu hal yang mendukung keamanan pengendara. Kampas rem sebagai salah satu komponen dalam sistem
rem secara keseluruhan. memegangperanan penting, hal ini disebabkan kampas
rem itulah yang secara langsung bergesekan dengan bagian yang berputar dalam hal ini drum (dalam sistem tromol) atau disk (dalam sistem cakram).
Secara umum, kampas rem yang ada di pasaran tidak diberikan alur. Sehingga studi ini dilakukan untuk melihat pengaruh penambahan alur pada kampas rem'brake shoe' (sistem tromol), dimana penambahan alur tersebut dimaksudkan agar permukaan perpindahan panas menjadi bertambah (sebagai 'fins’) disamping memungkinkan adanya aliran udara melalui alur.

Metode yang dipakai adalah uji 'comparative', dimana hasil pengamatan unluk kampas polos dibandingkan dengan hasil pengamatan kampas modifilkasi. Sedangkan pengujian dilakukan berdasarkan prosedur SAE J 108a.Basilpengamatan menunjukkan bahwa kampas modifikasi
mempunyai beberapa kelebihan, yaitu pendinginan kampas lebih baik; kampas tidak cepat mengalami fading' dan kemampuan pengereman dalam kondisi basah lebih baik. Kendaraan merupakan alat angkut barang dan manusia. Keamanan bagi pengendara merupakan hal yang sangat penting, dimana
pengereman bagi kendaraan merupakan salah satu bagian kendaraan yang mempengaruhi keamanan. Meskipun pengereman dikendalikan oleh pengendara, sistem pengereman juga akan mempengaruhi dan membantu pengendara untuk mengurangi resiko kecelakaan karena sistem rem tidak berfungsi dengan baik.
Sifat-sifat pengereman dipengaruhi oleh beberapa hal seperti : kondisi jalan; koefisien gesek ban dan jalan; koefisien gesek kampas
serta besar gaya pengereman.

 Karakteristik dari kampas rem dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu temperatur dan kondisi kampas itu sendiri dimana pada temperatur yang cukup tinggi, kampas rem dapat mengalami penurunan dalam hal kemampuan pengereman yang disebabkan oleh temperatur atau yang lebih dikenal dengan istilah fade (pudar) dan hal ini tidak diharapkan terjadi, untuk itu terlihat adanya peluang untuk memodifikasi salah satu elemen system pengereman pada
kendaraan, dalam hal ini kampas rem pada sepeda motor, yangmana salah satunya adalah dengan menambahkan alur pada permukaan kampas dengan harapan adanya peningkatan. minimal mencakup dua kriteria, yaitu ;
•Kemampuan untuk menyerap energimenjadi panas.
•Kemampuan untuk membuang/melepas panas tersebut.
Sehingga dari studi ini diharapkan adanya peningkatan dalam hal kemampuan
pengereman dan kemampuan untuk membuang panas hasil gesekan antara drum
dengan kampas rem, yang tercermin dari kenaikan temperatur kampas.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar